Izinkan aku menjadi wanitamu


Waktu buka-buka file ehh nemu yang satu ini.
cerpen yang pernah aku ikut sertakan dalam lomba tapi kurang beruntung 😀
iya sihhh banyak kekurangannya.
just for fun
😀

 

Terlahir sebagai seorang perempuan memaksa aku untuk terus berusaha menjaga tingkah laku, sopan santun dalam bergaul dan yang terpenting buat aku adalah dilarang menyatakan cinta kepada pria. Yah… DI-LA-RANG. Karena perempuan itu memang harus menunggu dan ditakdirkan untuk terus menunggu. Contohnya seperti putri tidur yang menunggu dibangunkan sang pangeran dengan ciumannya. Atau seperti layaknya sel telur yang menunggu dibuahi. Dan sudah jelas bahwa perempuan itu memang harus menunggu.

Vino, hanya dia pria yang tidak pernah meninggalkan aku. Kapan, dimana, dan dalam kondisi apapun. Dialah sahabat terbaikku.

“Cewek itu gak harus nunggukan fli? Lihat diluar sana, banyak kok cewek yang nembak cowok dengan pede” goda vino kepadaku. Meskipun Vino adalah penentang utama semua pendapatku tentang perempuan yang dikodratkan untuk menunggu.

“Tapi Vin, aku itu cewek, aku itu gak boleh agresif, cewek itu wajib nunggu. Pokoknya..Pokoknya..POKOKNYA GAK BOLEH TITIK” Usil dan selalu usil namun Vino adalah yang paling mengerti aku.

Kedekatan antara aku dengan Aki bisa disebut lumayan, ketemu saling sapa dan beberapa kali berangkat kampus bersama. Vino bilang Aki juga menyukaiku tapi aku tidak pernah yakin. Pria supel dan asisten dosen pula. Cewek mana coba yang gak tepar kalau ngelihat dia. Tiga bulan kedekatan kami berjalan lancar. Namun hari ini aku melihat pemandangan yang luar biasa. Aki berpelukan dengan seorang cewek yang gak lain adalah Dea, teman sekelasku.

“Aku dekat dengan efli hanya untuk dekat dengan kamu. Untuk mengetahui semua tentang kamu” pernyataan yang nyaris memebuat jantung aku copot dan SAKIT.

Vino, Vino, dan hanya Vino tempat aku ngadu dan lagi-lagi Vino menyalahkan aku karena aku gak pernah mau bertanya kepada Aki tentang kepastian hubungan kami.

“Fli..Fli..” sambil menggelengkan kepala Vino tertawa dengan kerasnya dan terus menyalahkan aku.

“Aki adalah pria ketiga yang meninggalkan aku setelah mereka memberikan harapan semu kepadaku. Setelah Topan yang meninggalkanku setelah tamat SMA dan melanjutkan kuliah diluar negeri dan tanpa kabar sampai sekarang. Saat semester satu Dion yang meninggalkan aku dan mengaku hanya menganggap aku sebagai teman dan hanya teman. Dan hari ini Aki lebih memilih Dea. APA INI TAKDIR VIN? ATAU AKU TIDAK DIIZINKAN UNTUK DICINTAI?” ucapku sambil menatap wajah Vino dengan sinis.

Kini pandangan Vino berubah menjadi tatapan tak bermakna. Tak bermakna bahwa dia sedang mengejekku. Tatapan yang berbicara bahwa dia tak ingin aku bersedih.

“Fli…fli.. dasar aneh. Kenapa masih menyalahkan diri sendiri? Ayoo.. mana Efli yang selalu semangat. Baru 3 cowok udah nyerah. PAYAH” teriak Vino dihadapanku dan serasa dia sangat ngerendahin aku karena dengan menyebut aku payah. Paling Fatal buat aku kalau udah direndahin. Terutama direndahin cowok.

“VIVIN…, enak aja kamu bilang aku payah. Jangan panggil Efli kalau gitu aja nyerah” sambil kuusap-usap air mata yang mengembun dipipiku.

Vino tertawa keras, kini suaranya membahana ditelingaku. Dan aku mulai berusaha melupakan Aki walau raga dia dan Dea selalu muncul dihadapanku. Namun aku selalu berusaha tenang dihadapan mereka. Berpaling dan menyibukkan diri dengan rutinitas baru mungkin bisa menjadi alternatif supaya aku bisa lupa dengan semua rasa sakit ini.

Hari ini aku berencana melamar pekerjaan untuk menjadi pegawai di Distro yang namanya sudah populer di kota Medan, bahkan menjadi salah satu distro favorit. Baju putih dengan rumbai dileher dan lengan panjang serta rok yang tidak terlalu pendek membuat penampilanku lengkap untuk melamar pekerjaan perdanaku dan semakin lengkap dengan pita keberuntungan menyisir rambut kananku dengan rapi.

Duduk dikursi tunggu didepan ruangan bapak-bapak yang mereka sebut direktur.

“Kampung banget sih. Baru distro beginian pake direktur segala. Pake acara nunggu lagi. Huuh…, nasib perempuan emang selalu nunggu yah” ku helahkan nafas bosanku dalam-dalam dan kini seluruh setan dan malaikat dikanan-kiriku sedang menggunjingkan diriku.

“Mbak Efli, silahkan mbak” ucap seorang cewek dihadapanku. Cewek yang mereka panggil sekretaris. “Cantik. Hmm…” bisikku dalam hati sambil melangkah masuk ke ruangan Pak Direktur.

Setengah jam lebih 45 detik aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan ini dan horee… esok aku sudah dapat bekerja. Mungkin ini langkah awal aku untuk bisa melupakan semua sakit yang mencabik-cabik relung hatiku. Saatnya melupakan semua orang yang hanya singgah dihatiku.

Satu minggu setelah bekerja terasa melelahkan untuk aku. Namun semangat dari keluarga dan sahabat aku Vino selalu memenuhi isi kantongku setiap hari. Melayani customer, merapikan baju-baju dan selalu ramah adalah tugas wajibku.

“Selamat sore mbak?” sapa seorang pria dibelakangku

“Oh..Eeh..Hmm…iya selamat sore mas. Selamat datang. Ada yang bisa dibantu?” Lidahku terasa kelu berbicara dengan sosok pria dihadapanku

“Pegawai baru ya mbak” tanyanya kembali dengan senyum lebar yang tetap membingkai wajahnya.

“Lho..kok tau mas? Sering kesini ya?” tanyaku dengan heran

“ Iya mbak. Sangat sering malah” Jawabnya lagi tetap dengan wajahnya yang teduh, senyum lebar, dan dengan kaca mata yang membingkai indah mata coklatnya.

“Ohh..” terpaku dan kehabisan kata-kata aku saat itu.

“Kalau begitu bisa bantu saya mbak? Oh ya sebelumnya perkenalkan nama saya Ferdinan” sambil ia mengulurkan tangannya.

“Oh..iya..” lagi lagi aku terpaku menatapnya sambil meraih tangannya

“Nama mbak?”

“Mbak..”

“Heyy..” teriaknya sambil menggoyang-goyangkan tanganku.

“Ehh…maaf. Saya Efli.”

“Efli..OK. Nama yang cantik secantik orangnya” pujinya membuat aku nyaris melayang

“Ya allah ini durian runtuh atau hujan durian” gumamku dalam hati dan terus mengagumi pria dihadapanku.

Pertemuanku hari itu dengan Ferdinan berlanjut dan kami semakin dekat. Malam ini Ferdinan mengajakku dinner dan dia langsung yang meminta izin kepada bosku

“ Ohh.. so cwiitt…dan aku yakin kali ini pria ini tidak akan meninggalkanku dan mungkin aku telah jatuh cinta kepadanya “ gumamku dalam hati dan terus menatap bayanganku dalam kaca pintu distro

“Hey..anak gadis gak boleh melamun” tiba-tiba Vino muncul dari balik pintu dan membuyarkan lamunanku.

“Kamu? Ngapain Vin?” Tanyaku heran melihat Vino tiba-tiba muncul dan tidak seperti biasanya.

“ Nih…, mawar kuning untuk menemani gadis kerja dimalam minggu” ucap Vino sambil menyodorkan setangkai mawar kuning dihadapanku

“Wahh..bagus. Tapi tidak untuk malam ini. Gak kamu lihat apa aku cantik begini dan lihat cowok disana yang sedang berbicara dengan bos. Dia akan mengajakku dinner. Jadi kamu bawa pulang aja nih mawar kamu” ucapku angkuh sambil menyilangkan tangan dan mengangkat dagu. Iblis kesombongan sedang menjelma pada diriku malam ini.

“Oh..OK.Hai-hati ya gadis. Awas ditinggalin lagi”

“Enak aja. GAK BAKALAN LAGI”

Vino langsung keluar dari distro dengan wajah ceria yang palsu. Ia selalu menutupi rona kekecewaan diwajahnya dan kini Vino telah berganti dengan Ferdinan.

“Yuk..Fli” ajak Ferdinan dengan senyum yang tak pernah pupus dari wajahnya. Kami langsung menuju restoran yang cukup terkenal disini. Ferdinan memperlakukan aku dengan sangat luar biasa. Ia menggandeng tanganku seolah takut kehilanganku. Menatapku penuh perasaan, sifatnya yang supel dan humoris membuat aku semakin nyaman berada didekatnya.

Malam itu berlalu dengan sangat indah. Dan aku hanya tinggal menunggu ia menyatakan cinta kepadaku. Dan sudah memasuki bulan keempat aku dekat dengan Ferdinan.

“Kapan Ferdinan nembak aku ya Vin?” tanyaku kepada Vino yang sejak pagi tadi sudah nongkrong di rumahku. Jarak antara rumahku dengan rumah Vino yang hanya dibatasi garasi mobil papa membuat Vino mudah timbul tenggelam dirumahku.

“Haah.. udah saatnya kamu ngomong duluan Flik. Bagaimana dengan status hubungan kalian” ucap Vino sambil metertawakanku lagi

“NGGAK VIN. NGGAK” teriakku tepat ditelinga Vino dan refleks Vino langsung menutup wajahku dengan boneka spongebob disampingnya.

“Ya sudah.., tunggu aja durian runtuh part II” dan lagi-lagi Vino meledekku.

Tiba-tiba handphone ku bergetar dan tidak salah lagi SMS dari Ferdinan

Nanti aku jemput kamu jam 2. OK

Pesan singkat yang membuat aku melayang hari ini.

“Sekarang kamu pulang karena aku bakalan ketemu sang pangeran” ejek aku kepada Vino dan langsung meninggalkannya diruang keluarga.

Tepat jam 2 Ferdinan sudah muncul di depan rumahku. Mobil Dinan melaju dengan kencangnya menyusuri jalanan siang ini dan berhenti di salah satu cafe favoritnya.

Seperti biasa, candaan dan obrolan yang menarik setiap bersamanya membuat aku benar-benar nyaman berada didekatnya.

“Fer…” ucap seorang perempuan berpakaian ala kantoran dengan mata berkaca-kaca dan rona wajah marah ada disana.

“Chintya?” jawab Dinan dengan wajah kaget dan hanya kali ini senyuman diwajahnya terhapus.
“KAMU SIAPA?” tanyanya kasar kepadaku

“Dasar cewek gampangan. Kamu pikir kamu bisa mendapatkan cinta Dinan. Kamu gak pantas dicintai. Kamu perusak hubungan orang” ucap perempuan itu lagi dihadapanku seperti ingin menerkamku. Dan aku benar-benar bingung dan hanya bisa terdiam melihat dia berteriak dihadapnku.

“Kamu lihat ini” sambil perempuan itu menyodorkan kertas biru dengan pita pink disudut kanannya dan bertuliskan Undangan Pernikahan Ferdindn dengan Chintya disampul depannya.

Kini kaki ku terasa kaku dan terasa darah ditubuhku berhenti mengalir. Tidak dapat lagi aku berpikir untuk meminta Ferdinan menjelaskan

“Fli..maaf”

“SUDAH CUKUP DAN ANGGAP KITA NGGAK PERNAH KENAL” potongku dengan cetus dan dengan hati yang tidak dapat tergambarkan lagi.

“Tolong jangan ganggu kami” pinta wanita itu lagi dengan rona kebencian diwajahnya

“OK. Kamu jaga priamu” langsung aku meninggalkan mereka dengan hati yang lebih dari hancur. Air mata penyesalan dan kekecewaan kini tak dapat kutahan lagi.

“TAK PANTAS DICINTAI” kalimat Chintya terus ternyiang ditelingaku dan seakan yang ia katakana adalah benar. Aku pun bergegas pulang dan membenamkan diriku diatas kasur. Kini aku benar-benar ingin sendiri dan menghilang dari dunia ini agar kecewa tak menghampiri hidupku lagi.

“TAK PANTAS DICINTA. MEMANG AKU TAK PANTAS DICINTA” teriakku penuh emosi dan tak ku hiraukan ketukan pintu mama. Tenggelam dalam air mata dan lautan kesedihan.

Vino terus membujukku dan memaksa untuk masuk dan mungkin hanya Vino yang bisa menenangkanku. Kubukakan pintu kamar untuknya dan menyuruhnya masuk

“Ferdinan tak seperti yang kubayangkan Vin. Dia akan menikah dengan gadisnya dan gadisnya bukan aku. Dia meninggalkanku. Apa aku tak pantas dicintai priaku? Apa tak ada cinta untukku?” Tangisku semakin tumpah dalam pelukan Vino.

“Kamu pantas dicinta Fli. Kamu pantas mencintai. Tapi gak semua pria pantas mendapatkan cintamu Fli”

Tak ada suara ejekan dan tawa dari Vino. Kini hanya ada isakkan tangisku.

“Izinkan aku mencintaimu dan  izinkan aku mendapatkan cintamu fli. Aku mencintaimu sejak pertama aku mengenalmu Fli” sambung Vino menyelesaikan kalimatnya yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Ku lepaskan pelukanku dan tangisku tiba-tiba berhenti. Kini kutatap wajah Vino yang senduh dan aku berusaha mencari kebohongan disana. Namun aku tidak menemukannya. Wajah itu penuh kejujuran

“Izinkan aku menjadi priamu Fli”

Suaranya terdengar kaku dan Vino terlihat benar-benar takut kehilanganku. Digenggamnya erat tanganku dan tak mampu lagi aku menatap matanya. Kini rasaku dan rasa yang Vino pendam selama bertahun-tahun  bertarung dalam diri kami. Kini aku merasa sangat takut. Sangat takut untuk kehilangan Vino dan sebenarnya hati aku telah menjerit dan terus berkata “Izinkan aku menjadi wanitamu Vin. Wanita terakhir untukmu”

Iklan

2 pemikiran pada “Izinkan aku menjadi wanitamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s