Semua Karena Ibu


Mungkin semua orang tidak akan pernah tau seperti apa luka dalam bahagia. Hidup penuh ketercukupan sejak kecil, gadis kecil yang manja dan tidak pernah merasa kekurangan sedikitpun. Namun saat aku beranjak dewasa semua berubah. Hidup ku terasa tak bernyawa lagi. Aku tidak pernah membayangkan hal seburuk ini akan terjadi kepadaku.

Liburan yang panjang dan pantai. Pantai adalah tempat yang paling sempurna buat aku. Tetapi tidak pernah terbayang jika sebagian nyawaku akan hilang ditempat yang paling sempurna itu. Hal buruk terjadi kepadaku saat aku menghabiskan liburan semesterku di pantai. Ombak besar menggulung diriku, aku merasakan sesosok wanita cantik menarik kakiku. Sampai kemampuanku berenang tidak dapat aku gunakan saat itu. Pelampung yang terlepas tak sempat lagi ku raih. Dalam hitungan sekejap aku tidak dapat mengingat apa-apa lagi. Sulit ku rasa untuk bernafas dan ku anggap hidupku telah berakhir ditempat yang aku suka. Bahkan mungkin lebih parah, jasadku mungkin dimakan si raja laut. Tidak terbayangkan jika aku akan hidup kembali.

6 bulan waktu yang kuhabiskan untuk  berbaring di salah satu kamar dirumah sakit dikotaku. Aku selamat, namun kondisiku yang keritis membuat aku tidak dapat melakukan apapun. Koma yang kualami membuat harta keluargaku terkuras habis. Tabungan, rumah mewah, dan semua asset-aset ayahku terkuras habis hanya untuk menyelamatkan nyawaku.

Saat itu tepat dihari ulang tahunku yang ke 16 aku merasakan sebuah keajaiban ragaku yang tidak pernah bergerak tiba-tiba aku mampu menggerakkan kelopak mataku dan merasakan cahaya indah dihadapanku. Aku melihat cahaya dari lilin berangka 16 yang sudah hampir mati dan seorang wanita dengan wajah lesu tertidur disampingku. Aku berusaha mengingat namun tak sedikitpun ada hal yang dapat ku ingat. Aku menyentuh wajah wanita yang ada dismpingku. Ia merasakan sentuhan itu dan ia langsung memelukku.

“anakku..,ibu merindukanmu” teriak wanita itu sambil mencium kening dan memeluk erat tubuhku. Tapi aku hanya terpelongo dan menatapnya dengan sinis. Aku merasakan wanita itu bagaikan orang asing. Aku berusaha melepaskan pelukannya dan berusaha memberontak. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sambil berteriak. Aku merasa ia bagaikan orang gila saat itu. Aku tidak mampu mengingat apapun.

“kamu siapa?” tanyaku dengan suara sedikit serak ditenggorokan.

“ini ibu nak” jawabnya dengan sangat meyakinkan. Langsung wanita itu memencet tombol alarm yang berada disamping tempat tidurku dan tidak lama kemudian seorang pria berjubah putih dengan 2 orang wanita masuk ke kamarku.

“dok, apa yang terjadi kepada anakku?” tanya wanita tersebut dengan penuh emosi. Pria tersebut memeriksa beberapa bagian tubuhku dan menanyakan beberpa pertanyaan aneh yang tidak mampuh aku jawab.

“anak ibu mengalami amnesia dan kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisinya” ucap pria yang dipanggil dokter oleh wanita yang mengaku ibu kepadaku.

“siapa aku? Mengapa ia mengaku ibuku?apa yang terjadi kepadaku?” penuh pertanyaan saat ini otakku. Namun, saat aku berusaha mengingat kepalaku terasa sangat sakit dan sesak terasa dadaku.

“ibu…” panggilku pelan dan wanita itu langgung menatapku dengan senym lebar dibibirnya. “anakku..,kamu sudah ingat” tanya wanita itu dengan penuh harapan.

“tolong beritahu aku siapa kau sebenarnya dan apa yang terjadi kepadaku?aku merasa sangat sakit jika berusaha mengingatnya”. Sejenak ia langsung terdiam dan bulir-bulir air mata kini mengalir dipipinya.

“Bolehkah ibu memelukku” pintanya kepadaku dengan pipi yang masih basah dan penuh harapan, dan aku hanya menganggukkan kepala. Saat ia ia memelukku aku merasakan darahku mengalir sangat cepat dan jantungku berdetak lebih kencang..

“putri hijau menarikmu saat dipantai, kami sulit menemukanmu, kamu tenggelam dan saat ditemukan kondisimu sangat keritis” ucapnya pelan ditelingaku. Aku merasakan dinginnya air mata pada pundakku. Aku merasakan hangatnya pelukan yang sangat aku rindukan.

”ayah mana?” tanyaku pelan.

“ayahmu akan segera datang sayang” jawabnya singkat namun wajahnya sudah terlihat bercahaya dan kini aku memanggil wanita itu ibu meskipun aku belum bisa mengingat apapun. Ibu menceritakan semua tentang aku yang sangat menyukai warna hijau dan boneka kodok hijau kesayanganku.

“assalamualaikum” suara dari pintu memotong obrolan ku dengan ibu. Sejenak muncul peria berbadan kurus dengan wajah lesunya. Pria tersebut langsung memelukku dengan sangat erat. Kini aku tidak memberontak seperti sebelumnya, karena aku yakin bahwa pria ini adalah ayahku. Ibu menceritakan semuanya kepada ayah namun tidak terlihat kekecewaan diraut wajah ayah.

“kita akan berkumpul lagi sayang, ingatan kamu pasti akan kembali, semua akan ayah lakukan demi kamu sayang meskipun kita harus jatuh miskin”  sangat sesak rasanya dadaku mendengar ucapan ayah dan ntah mengapa air mataku tak mampu lagi tertahan.

Kini aku merasa bahagia berada diantara sepasang makhluk tuhan ini walaupun aku masih lupa dengan semuanya. Ibu dan ayah selalu membawakanku benda-benda kesayanganku dan foto-foto kami sewaktu dulu. Yang aku tahu bahwa ayah dan ibu tak sesegar dulu, mereka kurus, terlihat kusut dan pucat. Tidak ada lagi pakaian bermerek terkenal yang mereka kenakan. Hanya demi menyelamatkanku ayah dan ibu harus jatuh miskin dan sangat miskin. Seakan ibu mampu membaca raut wajahku.

“Tidak apa sayang, harta tidak sebanding dengan bahagianya kami saat berkumpul dengan kamu. Berkumpul kembali dengan kamu tidak dapat kami dapatkan dimanapun” ucap ibu sambil membelai rambut ikalku.

Hari ini kami akan mengunjungi pantai dimana tragedi beberapa bulan lalu terjadi kepadaku. Mungkin terapi ini mampu membuat ingatanku kembali. Hampir satu jam kami berada dipantai iu namun semua sia-sia. Aku mencoba berjalan ketengah pantai sambil berusaha mengingat. Ayah, ibu dan perawatku tidak berada jauh dariku. Kini aku merasakan guncangan hebat dikepalaku dan aku terjatuh, kini ombak kembali membawaku. Aku melihat ibu berlari berusaha menolongku namun ibu terbawa ombak yang menggulung badannya. Sekejab kurasakan aku mampu mengingat semuanya, aku ingat kejadian 7 bulan lalu dan aku ingat bahwa ibu tidak bisa berenang. Aku berusaha mencari ibu namun sambara tangan ayah menarikku ketepi pantai. Aku berteriak memanggil ibu dan berusaha lari mencari ibu tetapi ayah mencegahku. 30 menit kemudian ibu ditemukan dengan kondisi sangat keritis. Kami langsung melarikan ibu kerumah sakit. Kini semua rasa berkecambuk didadaku. Bahagiaku karena ingatan ku kembali tetutupi kesedihan mendalam melihat kondisi ibu. Tidak pernah terbayangkan jika aku harus kehilangan ibu. Sesaat sampai dirumah sakit ibu langsung mendapat pertolongan dokter, 5 menit kemudian dokter keluar dari ruangan

“maaf kami tidak bisa menolong ibu anda” lemas kurasa seluruh tubuhku, kakiku kini terasa tidak bertulang, bahkan air mata tak mampu lagi keluar, dan aku mersakan pandanganku tidak lagi terarah.

Seorang perawat mendekatiku, perawat muda yang selama beberapa bulan merawatku. Ia memberikan secarik kertas kepadaku.

”ini titipan dari ibu untuk mbak, ibu menitipkannya tadi pagi dan meminta saya memberikan kepada mbak saat mbak kembali dari pantai” ucap perawat itu pelan. Kertas itu berisi tulisan yang sangat indah dan aku mulai membacanya pelan

Anakku…Annisa sayang…
selamat ya sayang karena ingatan kamu kembali.
maafkan ibu jika harus pergi meninggalkan kamu dan ayah
Taka apa jika harus nyawa ibu yang hilang
asalkan kamu mampu mengingat kembali.
Tadi malam ibu bermimpi sangat indah karena ingatan nisa udah pulih
Walaupun ingatan itu memang harus ditukar dengan nyawa ibu
Nisa jangan nangis, gak boleh cengeng ya sayang
Ibu diciptakan untuk membahagiakan anaknya
Tidak ada artinya jika hanya nyawa seorang ibu yang dikorbankan
demi putri yang dicintai.
Nisa jangan nakal ya…,
Jaga juga ayah
Maaf jika sekarang kita miskin.
Ibu akan terus ada disamping nisa dan ayah
ibu tidak akan jauh dari kalian
cinta ibu akan selalu ada dihati kalian
Ibu sayang nisa…,
Ibu sayang ayah…,

yang tersayang,
Ibu

Langsung aku berlari ke jasad yang kini telah tak bernyawa itu. Aku berusaha memanggilnya namun hanya senyuman kecil tergambar diwajah pucatnya. Aku memeluk ibu untuk yang terakhir kalinya
“Anissa sayang ibu, maafkan anisa jika selama ini nakal, ibu harus bahagia ya disana, anisa rela jika ibu bahagia disana”

Iklan

8 pemikiran pada “Semua Karena Ibu

  1. Luar biasa utk ibunda kita, lebih tepat kalo ibu disebut-sebut sebagai “wanita paling setia”

    meskipun kita udah dewasa…meskipun udah hidup mandiri, ibunda kita selalu memikirkan kita, peduli ama kita……

    Selamat hari ibu, cintailah ibu kita, dengan sepenuh cinta… Karena Rasul saja menyebut 3 kali nama ibu sebagai orang yang patut kita hormati….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s