Bukan Sang Pemeran (part 1)


 

     Tia terlahir dari keluarga yang kurang harmonis. Pada saat tia berusia 7 tahun tia harus menerima sebuah kenyataan yang sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak seusianya. Orang tua tia memutuskan untuk mengakhiri mahligai rumah tangganya dikarenakan perbedaan komitmen diantara keduanya. Mungkin saat itu tia belum mengerti tentang semuanya dan hanya mengikuti pilihan orang tuanya yang dianggap adalah yg terbaik juga untuk tia.

       Ayah tia merupakan seseorang yang sangat ditakuti dan disegani, terutama oleh teman-teman tia. Hal itu pula yang membuat tia tidak betah berada dirumah dan selalu menghabiskan waktu diluar dengan bermain bersama teman-temannya. Kondisi rumah yang selalu dipenuhi pertengkaran antara kedua orang tuanya membuat tia merasa rumah bukan lah tempatnya.  Keadaan tersebut juga yang membuat tia menjadi keras kepala dan pembangkang dan hal tersebut yang melatar belakangi tia menjadi benci dengan laki-laki terutama laki-laki yang suka berbuat seenaknya kepada wanita.

        Kini tia telah menjadi wanita dewasa yang berumur 16 tahun dan bersekolah di SMA Budhi Sentosa di kota Malang. Seperti kebanyakan anak perempuan tia juga memiliki seorang teman sejati yang selalu menjadi tempat tia mengeluh, diary berjalan tia menyebutnya. Bulan adalah sosok yang selalu ada dimana tia merasa senang atau sedih. Mereka selalu bersama mulai dari bangku SD mempertemukan mereka.

Ditengah teman-teman termasuk bulan,tia merupakan anak yang ceria,kocak dan humoris. Karena hal-hal seperi itu lah yang mampu membuat tia bahagia. Tia sangat tidak suka dan hampir membenci yang namanya air mata. Tia memiliki motto yaitu membuat orang-orang disekitarnya tertawa bahagia.

***

14:00 (SMA Budhi Sentosa)

      Bel yang menandakan pelajaran telah berakhir telah berdencing kencang dan saat nya anak-anak berteriak  “yyeeahh…” namun berbeda dengan kondisi kelas tia. Kondisi kelas yang tetap senyap dan hanya suara seorang guru yang terdengar. Tentu saja suasana seperti itu yang ada, karena ada seorang guru killer berdiri tepat di depan meja dengan sebilah rotan yang selalu ditentengnya. Pak  Kuncoro, Guru fisika mereka adalah guru paling dan sangat killer di sekolah mereka dengan ciri khas gaya bicara bahasa bataknya yang sangat kental. Bingung memang kenapa nama Kuncoro terkenal killer dan  batak pula. Itu juga yang tia pertanyakan. Dan bersyukur diawal perkenalan pak kuncoro mencerittakannya. Karena pak togar,orang tua pak kuncoro menginginkan anak yang dapat berbicara lembut selayaknya orang  jawa. Itu alasannya orang tua pak kuncoro memberi nama itu kepadanya, nama ala ala suku jawa katanya. Seperti membalikkan gunung istilahnya. Mau cara apa pun dan bagaimanapun dilakukan tidak akan mungkin bisa merubah yang memang sudah ditakdirkan.

“Sudah…,pelajaran hari ini kita tutup. Selesaikan tugas kalian dirumah”pesan pak kuncoro kepada murid-muridnya.

“Iya..pak” dengan setengah suara mereka menjawab.
“Selamat siang” ulang pak kuncoro lagi sambil meninggalkan kelas tia.

Mereka semua berhamburan keluar dan tidak terkecuali dengan tia. Tia mulai berjalan melewati jejeran kelas-kelas yang telah sunyi senyap. Namun suara tangisan menghentikan langkah kaki tia. Kemudian tia sedikit menempelkan telinganya ke pintu kelas dan berharap tia dapat mendengar lebih jelas lagi. Dengan cepat tia mengenali suara tangisan itu. Tidak salah lagi dan pasti benar suara itu adalah suara tangisan bulan. Tiba-tiba Vino keluar dari kelas dan hampir menabrak tia yang sedang menguping de depan pintu.

“waaahhh….”sambil melompat tia berteriak dan memegang dadanya sambil berharap jantungnya tidak copot .

Vino dengan wajah kusam tidak menghiraukan tia dan langsung pergi meninggalkan tia. Begiu juga dengan tia, tia langsung masuk ke kelas. Dengan mengenyitkan dahi tia menatap wajah bulan yang telah basah oleh air mata. Bukan dekapan atau tanya keheranan yang ada, malah tia meninggalkan bulan dan berlari menuruni anak tangga untuk mengejar Vino.

Saat tia telah yakin bahwa bahu pria yng tia lihat adalah bahu vino tia berteriak bak singa yang dibangunkan dari tidurnya

“woy…vino,berhenti loe” teriak tia dengan keras, namun vino tidak menghiraukannya . Dengan refleks tia mengambil sebatang kayu dan melemparkannya tepat di kepala vino sambil berteriak untuk kedu kalinya
“gue bilang loe berhenti” dengan emosi yang benar-benar membara.

“Gila loe,kalau kepala gue bocor mau loe tanggung jawab” bentak vino sambil berbalik kearah tia.
“makannya gue bilang berhenti ya berhenti gak usah loe nyolot”  jawab tia dengan lantang.

“Apa sih mau loe” tanya vino dengan wajah sinis
“sekarang loe ikut gue,itu mau gue” jawab tia sambil menarik tangan vino
“gila..loe cowok atau cewek?kuat banget tenaga loe” sambil vino berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tia.
“loe udah buat temen gue nangis dan gue gak suka.jadi loe sekarang juga harus buat dia berhenti nangis”
“ok gue ikut tapi jangan loe tarik-tarik.gue gak bakalan lari” teriak vino di depan wajah tia.
Kini mereka berdua berjalan berdampingan menuju kelas IPA 3 layaknya pangeran yang dikawal pengawalnya . Sampailah mereka di ruangan IPA 3 dan terlihat bulan masih saja menangis.

“sekarang loe berdua cerita apa masalahnya, dan loe bulan,hapus air mata loe. Karena gue gak suka liat loe nangis” pinta bulan sambil menyerahkan sapu tangan kepada bulan.

“gue bukan benci atau gak sayang sama loe bulan. Tapi karena gue sayang banget sama loe” jelas vino sambil menatap bulan yang masih saja menundukkan kepala
“jadi?” potong bulan
“tapi gue mau loe jelasin ke gue apa alasannya” jawab bulan dengan suara seraknya.

“Ini masalah pribadi kalian berdua . kalian selesaikan baik-baik. Jangan loe buat bulan nangis lagi. Semua ada jalannya. Gue nunggu dibawah. vin,gue yakin maksud loe baik” pesan tia sambil menepuk bahu vino dan meninggalkan mereka berdua.

Setengah jam kemudian vino dan bulan muncul dari balik tembok pembatas antara gedung dan kantin dengan senyuman di wajah keduanya.

“sudah..!!!”
“nah..gitu donk. Senyum.benci banget gue ngeliat loe nangis” jelas tia kepada bulan.
“ih…tia.,nangis lagi nanti gue” sambut bulan dengan suara manjanya
“hah…,nangis?nangis aja situ loe, biar gue tinggal pulang” lawan tia sambil tertawa.
“makasih ya tia karena loe tia gak nangis lagi”  ucap vino kepada tia
“lho kok gue..,loe berdua  yang ngerubah kok. Klw niat baik pasti hasilnya baik” jawab tia dengan sok bijak
“makasihh…bg tio atas nasehatnya” ledek vino kepada tia

“apa loe bilang.bg?abang? ehh..gini-gini gue cewek ya.jangan gara-gara omongan loe semua panggil gue abang.” Jawab tia sambil menonjok bahu vino.
“iya lho tia…,sumpah.sakit banget tadi tarikan loe. Macam tarikan tukang becak” ledek vino lagi kepada tia yang sudah semakin cemberut

Ejekan, banyolan dan tawa kini memecahkan keheningan sekolah di sore  itu dan kini suasana haru berubah menjadi suasana penuh tawa kebahagiaan.

***

vino

+62877492939

tercantum nama dan nomor panggilan pada layar hape  tia.
“hmm…apa lagi ni anak” gumam tia dengan sedikit manyungkan bibirnya
“Hallo tia….”sambut suara dari sebrang
“hah..apa?ada masalah?” dengan nada lagak-lagak cuek dan gak mau bicara.
“nggak lho…,loe sibuk nggak?gue mau cerita sama loe?” tanya vino kepada tia

“nggak kok, yasudah ngomong aja”jawab tia
“hmm…gimana ya..”jawab vino dengan bingung
“tapi loe janji jangan cerita ke bulan ya..”harap vino
“iya..oke..gue janji.cepatan cerita” pinta tia dengan penasaran

“eh…gag usah deh…,kapan-kapan aja…” sambil ertawa vino memutuskan sambungan telepon mereka.
“iihh…kurang ajar ,apaan sih ni anak” gumam tia dengan dongkol dan melemparkan hapenya ke atas tempat tidur sambil berjalan menuju meja belajarnya dan melanjutkan aktivitasnya,main game.

Niat vino untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya diurungkannya. Niat untuk jujur ada pada diri vino namun vino belum siap untuk berbagi kesedihannya dengan orang-orang yang disayanginya. Malam pun berlalu dan kini pagi telah tiba, saatnya vino untuk beracting kembali di depan tia dan bulan.

“ tiaaa..bangun..”teriak mamah sambil mengetok-ngetok pintu kamar tia, dan teriakan mamah yang khas langsung menembus gendang telinga tia dan menyadarkannya dari mimpi-mimpinya.

“hmm…iya mah…,bentar lagi.masih ngantuk. Ntar juga bulan yang jemput tia. Jadi gak apa-apa telat dikit” ucap tia dengan seribu alasan

Bulan
+62877566667

tertera di layar hape  tia. Dengan sedikit bermalas-malasan tia menekan tombol hijau di hapenya.
“iya lan..,kenapa?loe  udah berangkat?” tanya ia dengan suara ala orang baru bangun tidur
“BANGUN tia…,cepetan. Maap gue gak bias jemput. Gue berangkat bareng vino.ok, hati-hati ya sayang.bye”
sambungan telepon mati dan tia langsung berdiri dari tempat tidurnya
“apa?gila.mampus gue.berangkat sama siapa gue”
gumamnya pelan sambil melangkah dan merampas handuk dan seragamnya.
15 menit kemudian tia keluar dari kamar dengan gaya awut-awutan ala tia dan langsung menyambar roti dan susu yang telah disedikan mamah di meja

“ ya ampun tia rapi sedikit dong jadi cewek. Kalau begini siapa yang mau naksir” ejek mamah sambil merapikan baju tia
“aduh mah…tia mau sekolah bukan mau cari taksiran ato calon suami”  jawab tia sambil menggelengkan kepalanya.
“makan anak perempuan itu sambil duduk” paksa mamah sambil mendudukkan tia dikursi
“aduh..mah,tia udah telat ini” sambil berdiri dan menyalam tangan mamah
“ok mah..,assalamualaikum” pamit tia sambil berlari keluar rumah
“waalaikumsalam…hati-hati” jawab mamah sambil tersenyum melihat tingkah laku anak perempuannya.

Dengan tergesa-gesa tia keluar dari rumah dan tidak menyangka kalau dari 10 menit yang lalu ada seorang pria yang menunggunya.

“lama banget loe keluar” nyolot raihan sambil menghidupkan motornya.
“lah..loe ngapain disini, yang nyuruh jemput siapa” tanya tia dengan lagak sok tidak bersalah.
“tadi vino nyuruh gue jemput loe. Karena bulan berangkat bareng dia” jelas vino sambil melotot ke tia
“ye…mata aloe biasa aja. jangan melotot juga.mata loe udah gede, keluar ntar mata loe, gue juga yang susah.mana gue tau loe mau jemput.vino gag ada ngemeng ke gue” ejek bulan dengan santai dan tetap membela diri
“udah cepat naik” paksa raihan

Tia langsung naik kea as motor raihan dan mereka mulai meninggalkan rumah. Sepeda motor raihan melaju dengan kencangnya menyusuri padatnya jalanan kota pagi itu. 10 menit kemudian mereka sampai di sekolah. Tepat dimana gerbang sekolah hampir tertutup

.”thanks ya rai..,sering-sering jemput gue.biar gue gak telat lagi” pinta tia sambil tertawa
“loe kira gue ojek” nyolot raihan sambil menampakkan wajah kesalnya.
“ntar pulang sekolah bareng gue ya. Ada yang mau gue omongin sama loe” ajak raihan dengan wajah masih tetap cuek
“mau apa?loe mau nembak gue.gak level gue loe. Liat ntar deh” banyol tia sambil tertawa dan meninggalkan raihan

***

  

14:00 (SMA Budhi Sentosa)

Bel pulang sekolah telah berdencing. Semua anak berhamburan keluar begitu juga dengan Tia dan Bulan. Mereka berjalan menuju parkiran. Jarak kelas ke parkiran yang cukup jauh membuat mereka bermalas-malasan untuk  melewati lapangan basket,voly,dan futsal yang sedang terpanggang  oleh teriknya matahari.

Dari jauhan tepat di kanan parkiran terlihat Vino dan raihan sedang menunggu
“woy…cepat jalannya.panas ini” teriak raihan dari kejauhan
“apa?nggak dengar gue” usil tia
“udah yok,cepetan tia.kasihan mereka”ajak bulan
“pelan-pelan aja lan , biarin dia marah. Jadi cowok kok gak sabaran” sambil menarik tas bulan yang berjalan mendahuluinya.
“gila loe tia..,jahil banget.kasihan raihan. Ayo donk cepetan” bujuk bulan“ahh..biarin..”ejek tia sambil ngejulurin lidahnya

Sampai mereka di parkiran  tepat disamping vino dan raihan
“cepetan loe naik. Jangan buat gue marah” ancam raihan kepada tia
“jelas-jelas loe udah marah bego” jawab tia sambil naik ke atas motor raihan
“gue duluan ya vin” ucap raihan

“ok. Hati-hati” jawab vini sambil mengacungkan jempolnya
Raihan melajukan motornya dengan kencang menuju jalanan kota. Tia berusaha mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol raihan.
“rai…..,udah donk. Jangan ngambek. Emang kita mau kemana” tanya tia
“Makan” dengan cetus raihan menjawab

“loe jangan marah. Jelek banget muka loe kalau lagi marah” ejek tia sambil tertawa dan memukul helm raihan.
“loe emang cewe saraf ya. Bujuk orang tapi sambil ngajak berantem. Mau makan dimana loe?” tanya raihan
“maaf…,sedikit saraf kan lebih bagus daripada saraf 100%. Terserah loe, yang  penting enak dan loe yang bayarin”
“iya..iya…,malu banget gue dibayarin cewek” jawab raihan dengan cetus

Motor raihan yang melaju dengan kencang kini berhenti di taman kota tepat di depan gerobak bakso Pak Karyo. Tukang bakso langganan anak- anak sekolah raihan dan merupakan tongkrongan raihan bareng teman-temannya.

“Pak pesan dua ya” tutur raihan sambil tersenyum
“eh…,mas raihan. Mana teman-teman yang lain? Eh…,ada mbk tia juga. Kok tumben berdua?” tanya pak karyo dengan bahasa lembutnya
“yang lain pada nyangkut pak” usil tia menjawab
“ahh…mbk tia iki eneng-eneng wae” jawab pak karyo sambil terawa

Dengan penasaran tia bertanya langsung kepada raihan ada apa sebenarnya
“loe mau cerita apa rai?” tanya tia dengan penasaran
“semalam bulan nangis?”tanya raihan balik
“iya” jawab tia singkat
“karena mereka mau putus” tanya raihan lagi
“iya” jawab tia lagi
“loe tau kenapa mereka mau putus” tanya raihan untuk ketiga kalinya
“ng…nggak” jawab tia sambil menggelengkan kepalanya
“memangnya loe tau kenapa?” tanya tia balik
“loe janji ya jangan cerita sama siapa pun termasuk bulan” pinta raihan dengan penuh harapan
“iya suer deh…” jawab tia sambil mengacungkan tangannya
“Vino sakit” jawab raihan singkat
“hah….,sakit?” tanya tia dengan raut wajah yang semakin bingung
“iya sakit” ulang raihan
“sakit apa?masa karena sakit aja mesti putus” tanyanya dengan polos
“Vino sakit kanker otak” ujar raihan pelan
“apa?loe serius” tanya tia meyakinkan dengan jantung yang berdebar-debar
“iya..,vino divonis dokter kalau umurnya gak lama lagi. Loe inget waktu ospek dia pingsan? Waktu sekelas kita dia sering mimisan dan akhir-akhir ini dia jarang masuk”
“iya..” jawab tia lemah
“itu karena vino sakit kanker otak” jelas raihan sambil menahan air matanya

“kenapa vino gag pernah cerita?” tanya tia pelan
“vino gag mau buat kalian sedih. Terutama bulan. Dia mau putusin bulan supaya bulan benci sama vino dan saat vino pergi bulan tidak terpukul” tutur raihan

Namun tia hanya terdiam dan matanya mulai berlinang
“loe kenapa tia?loe gak apa-apa?” tanya rihan sambil memegang  bahu tia
“kenapa hal ini lagi yang terjadi”  sahut tia sambil meneteskan air matanya
“lagi? Maksud loe?” tanya rihan yang semakin tidak mengerti
“loe tau foto cewek yang mirip gue yang kalian temuin di tas gue waktu kelas satu?”
“iya” jawab raihan dengan singkat dan semakin bingung
“kenapa gue gak mau cerita tentang dia. Itu karena dia sudah meninggal. Dia saudara kembar gue. Dan dia meninggal karena kanker otak. Sampai saat ini gue benci banget sama penyakit itu dan semakin benci. Kenapa orang-orang yang gue sayang semua pergi karena penyakit itu”
tangisan tia pun pecah seketika dan dengan refleks raihan langsung memeluk tia.
“maaf..maafin gue udah buat loe sedih” seakan raihan merasa sangat bersalah kepada tia.

Kesedihan kini ada diantara keduanya . Dan raihan tetap berusaha menenangkan tia yang benar-benar terpukul dengan hal itu. Kini mereka sepakat untuk tidak bercerita kepada bulan dan bersama-sama menjadi pendukung untuk vino dan bulan. Mendukung vino untuk terus berpura-pura. Dan mereka hanyut dalam lautan kesedihan diantara gemuruh ombak yang menentang di hati mereka.

***

Saat tia elah mengetahui apa yang terjadi kepada sahabatnya, vino. Ia harus menjadi seseorang yang harus dan wajib berpura-pura. Mungkin di akhir umur  Vino yang tidak lama lagi akan semakin banyak kebohongan-kebohongan lagi yang harus ia buat. Kebohongan demi wanita yang dicintainya, Bulan.

Dewi Bulan, nama wanita yng membuat vino bersemangat menjalani hari-hari terakhirnya. Dan dua orang sahabat sekaligus peran pendukung serta saksi vino memulai scenario kebohongannya.

bersambung…

Iklan

12 pemikiran pada “Bukan Sang Pemeran (part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s